This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 19 Juli 2015

Naluri Kepahlawanan (Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia #2)

Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.

Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.

Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-antangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.

Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku. Atau seperti ungkapan orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang diceritakan Al-Qur' an,

"Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongangolongan yang saling bersekutu itu, (dalam menghadapi orang-orang beriman), mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan ketundukkan." (AI-Ahzab: 22)

Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal itu akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Dan jika ia merasa memiliki kesiapankesiapan dasar, maka ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Dalam serial Jenius-jenius Islam, Abbas Mahmud Al-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar As-Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata Al-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. la berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia ini. Apakah Anda juga memiliki kunci rahasia itu? Saya tidak tahu.



----------------------------------------------------- 
Sumber:
Anis Matta. Mencari Pahlawan Indonesia. Jakarta: The Tarbawi Center


O, Pahlawan Negeriku (Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia #1)

Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta

"Di masa pembangunan ini", kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, "Tuan hidup kembali.
Dan bara kagum menjadi api".

Kita selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.

Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, "telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah". Pahlawan yang kata hairil Anwar, "berselempang semangat yang tak bisa mati." Pahlawan yang akan membacakan "Pernyataan" Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah bangkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan


Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya.Untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang ke makam para sahabat Rasulullah saw di Baqi' dan Uhud, di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka:

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan


Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, "merelakan kalian pergi berdemonstrasi.. karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan negeri ini."

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, "Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?"

Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu.


-----------------------------------------------------
Sumber:
Anis Matta. Mencari Pahlawan Indonesia. Jakarta: The Tarbawi Center


Download Buku Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta

Download Buku Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan dari tulisan "Serial Kepahlawanan" yang dimuat di Majalah Tarbawi. Pembukuan serial tulisan ini bukanlah sebuah proyek mekanik, semacam menjahit sesuatu yang tercerai berai dari rubrik demi rubrik atau edisi demi edisi di Majalah Tarbawi begitu saja. Bukan. Ini adalah pembukuan sebuah serial ide yang khas.

Khas, karena tulisan-tulisan dalam buku ini memadukan antara spirit normatif yang kuat dengan ilustrasi sejarah—peristiwa maupun sosok—yang sangat aplikatif. Tetapi ia tetap bisa hadir sebagai renungan aktual bagi kehidupan saat ini, yang kian kering dari para pahlawan. Antara satu tema dalam serial ini memiliki hubungan dengan tema yang lain. Tapi ia tetap bisa dinikmati judul demi judulnya, tanpa harus terasa terputus dari judul yang lain. Dan, itulah keunggulannya.

Maka, ketika serial itu dikumpulkan dalam satu buku, yang terjadi adalah terangkainya serial-serial itu dalam kedekatan yang lebih bertenaga. Tetapi tetap dengan karakternya. Anda bisa menikmati judul mana saja, dan Anda akan mendapatkan sebuah makna yang mandiri. Atau Anda akan menyelaminya dari awal, satu demi satu, dan Anda juga akan mendapatkan beragam makna dalam satu mata rantai yang utuh.

Vitalitas tulisan dalam buku ini tidak saja bisa diukur dari makna dan filosofinya. Tapi juga dari konsistensinya. Salah satunya, tentu, kehadirannya yang setia di hadapan pembaca Tarbawi selama ini. Empat setengah tahun bukan waktu yang singkat untuk tetap mengeksplorasi sebuah tema besar: kepahlawanan, lalu menuangkannya dalam gagasan yang mendalam tetapi dengan bahasa yang mengalir.

Buku ini memuat 61 artikel dengan judul sebagai berikut.
1. O, Pahlawan Negeriku
2. Naluri Kepahlawanan
3. Keberanian
4. Kesabaran
5. Pengorbanan
6. Kompetisi
7. Filosofi
8. Optimisme
9. Pekerjaan Besar dan Pekerjaan Kecil
10. Vitalitas
11. Menilai Diri Sendiri
12. Momentum Kepahlawanan
13. Keunikan
14. Kesempurnaan
15. Sahabat Sang Pahlawan
16. Determinasi Sosial
17. Di Balik Keharuman
18. Kegagalan
19. Musibah
20. Kesalahan
21. Kekalahan
22. Imajinasi
23. Syubhat Mimpi
24. Firasat
25. Keterhormatan
26. Aib Kepahlawanan
27. Sensitifitas Kepahlawanan
28. Jenak-Jenak Kejujuran
29. Sinergi Kecerdasan
30. Siasat Pengalihan
31. Seni Ketidakmungkinan
32. Setelah Legenda
33. Kemanjaan
34. Pahlawan Melankolik
35. Apresiasi
36. Sukses Kecil ke Sukses Besar
37. Kepahlawanan Kolektif
38. Jebakan Massa
39. Tekanan
40. Karunia Kegagalan
41. Keluarga Pahlawan
42. Pewarisan
43. Menanti Kematangan
44. Pusat Keunggulan
45. Bayangan Sang "Icon"
46. Nila
47. Muara Peradaban
48. Pahlawan Kebangkitan
49. Pahlawan Kejayaan
50. Keterbatasan
51. Di Antara Reruntuhan
52. Perempuan Bagi Pahlawan
53. Gairah yang Membuat Tenang
54. Tragedi Cinta
55. Kebutuhan, Bukan Ketergantungan
56. Cinta di Atas Cinta
57. Harta Bagi Pahlawan
58. Daya Cipta Material
59. Tangan Dingin Sang Zahid
60. Pahlawan Tanpa Harta
61. Bisnis Kehormatan



Berikut ini "Pendahuluan" dari Anis Matta yang diberi judul "Pesan untuk Orang-orang Biasa"

Kumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita di tengah badai itu.

Krisis adalah takdir semua bangsa. la tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah
bangsa.

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekadar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.

Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga Anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami maknamakna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.

Sukses buku ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdo'a kepada Allah: "Ya Allah, jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu."


Download Buku Mencari Pahlawan Indonesia karya Anis Matta
DOWNLOAD



Rabu, 29 Januari 2014

Download Risalah Pergerakan, Hasan Al-Banna (pdf)


Dalam Kata Pengantarnya terhadap buku Risalah Pergerakan (Majmu’atu Rasa’il), Ustadz Muhammad Mahdi Akif mengatakan, “Semoga Allah merahmati Imam Hasan Al-Banna dengan rahmat yang luas. Beliau telah membimbing umatnya pada umumnya dan pengikut-pengikutnya pada khususnya, kepada banyak hakikat, menghidupkan di tengah mereka makna-makna yang sebelumnya telah mati, dan berbagai persoalan yang telah terpelajari. Beliau bangkitkan kembali semangat dan tekad.

“Beliau telah berbicara tentang urusan agama dan dunia dalamwaktu bersamaan. Beliau pindahkan dakwahnya itu dari lingkup dakwah khusus – atau dakwah diniyah di masjid-masjid dan pojok-pojok – ke dakwah ‘ammah di jalan-jalan protocol, warung-warungkopi, klub-klub, organisasi-organisasi, dan seluruh pertemuan formal dan informal di masyarakat.” 


RISALAH PERGERAKAN HASAN AL-BANNA (pdf : 2,1 Mb) 
DOWNLOAD

Rabu, 01 Januari 2014

Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il, Imam Hasan Al-Banna


 

















----------------------------------------------------------------------------
Judul buku : Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Hasan Al-Banna 
Penulis :  Hasan Al-Banna

Penerjemah: Anis Matta, dkk.
Sampul : Hard Cover (HC)
Penerbit : Era Intermedia 
Tahun terbit : 2012
Jumlah halaman : 650 hlm


----------------------------------------------------------------------------

Dalam Kata Pengantarnya terhadap buku Risalah Pergerakan, Majmu’atu Rasa’il, Ustadz Muhammad Mahdi Akif mengatakan, “Semoga Allah merahmati Imam Hasan Al-Banna dengan rahmat yang luas. Beliau telah membimbing umatnya pada umumnya dan pengikut-pengikutnya pada khususnya, kepada banyak hakikat, menghidupkan di tengah mereka makna-makna yang sebelumnya telah mati, dan berbagai persoalan yang telah terpelajari. Beliau bangkitkan kembali semangat dan tekad.

“Beliau telah berbicara tentang urusan agama dan dunia dalamwaktu bersamaan. Beliau pindahkan dakwahnya itu dari lingkup dakwah khusus – atau dakwah diniyah di masjid-masjid dan pojok-pojok – ke dakwah ‘ammah di jalan-jalan protocol, warung-warungkopi, klub-klub, organisasi-organisasi, dan seluruh pertemuan formal dan informal di masyarakat.”

Buku Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Imam Hasan Al-Banna ini merupakan edisi terbaru yang memuat tambahan enam bab baru.

Ustadz Muhammad Mahdi Akif mengatakan, “Warisan yang ada di hadapan Anda ini merupakan tulisan Imam Hasan Al-Banna yang terpenting. Di dalamnya beliau menjelaskan fikrahnya dan mempertegas rambu-rambu dakwah, mempertegas sikap, menjawab tipu daya musuh dan orang-orang yang selalu mengintai, menjawab pertanyaan orang-orang yang minta penjelasan. Karena itu, tulisan-tulisannya memuat akidah, hadits, tafsir, quran, fikih, fatwa, akhlak, sirah nabi, ceramah, nasehat, bimbingan, tasawuf, dan event-event Islam lainnya. Sebagaimana juga menjelaskan dasar-dasar kebangkitan Islam modern, pilar-pilar, karakteristik, sikap Islam terhadap berbagai aliran dan pemikiran.”

Buku Risalah Pergerakan, Majmu’atu Rasa’il Imam Hasan Al-Banna jilid 1 ini memuat tulisan-tulisan atau ceramah-ceramah Imam Hasan Al-Banna. Buku ini diberi Kata Pengantar oleh Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Muhammad Mahdi Akif.

Berikut ini isi dari buku Risalah Pergerakan, Majmu’atu Rasa’il Imam Hasan Al-Banna jilid 1.

1. Risalah: Kepada Apa Kami Menyeru Manusia?

  1. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (1)
  2. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (2) 
  3. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (3) 
  4. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (4) 
  5. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (5)
  6. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (6)
  7. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (7)
  8. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (8)
  9. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia? (9)
2. Risalah: Apakah Kita Para Aktivis?
  1. Apakah Kita Para Aktivis? (1)
  2. Apakah Kita Para Aktivis? (2) 
  3. Apakah Kita Para Aktivis? (3) 
  4. Apakah Kita Para Aktivis? (4) 
  5. Apakah Kita Para Aktivis? (5) 
  6. Apakah Kita Para Aktivis? (6)
  7. Apakah Kita Para Aktivis? (7)
  8. Apakah Kita Para Aktivis? (8)
  9. Apakah Kita Para Aktivis? (9)
  10. Apakah Kita Para Aktivis? (10)
3. Risalah: Dakwah Kami?
  1. Dakwah Kami? (1)
  2. Dakwah Kami? (2)
  3. Dakwah Kami? (3)
  4. Dakwah Kami? (4)
  5. Dakwah Kami? (5)
  6. Dakwah Kami? (6)
  7. Dakwah Kami? (7)
4. Risalah: Menuju Cahaya?

5. Risalah: Ma’tsurat?

6. Risalah: Mukhtamar Mahasiswa Al-Ikhwan Al-Muslimun?

7. Risalah: Manhaj?

8. Risalah: Ta’alim?

9. Risalah: Munajat?

10. Risalah: Mukhtamar Kelima?

11. Risalah: Di Bawah Naungan Panji Muhammad Rasulullah? 

 






Selasa, 26 Maret 2013

Kepada Apa Kami Menyeru Manusia (1) [Hasan Al-Banna]

* Risalah ini pertama kali dimuat oleh Majalah Mingguan Al-Ikhwan Al-Muslimun,No. 2/II, 26 Muharram 1353 H atau 11 Mei 1934, h. 1-3


Pendahuluan
Dalam banyak kesempatan, mungkin Anda pernah berbicara dengan orang banyak tentang berbagai masalah. Anda yakin bahwa semua cara yang mungkin digunakan untuk menjelaskan apa yang Anda inginkan telah Anda lakukan. Anda pun merasa bahwa semua menjadi jelas, sejelas fajar subuh, atau bahkan sejelas matahari di siang hari. Tapi, seketika itu pula Anda mungkin terhenyak karena ternyata para pendengar tidak memahami penjelasan Anda.

Saya telah menyaksikan dan merasakan hal tersebut di banyak kesempatan. Saya percaya bahwa rahasia yang ada di balik itu –tidak akan lebih dari– salah satu dari dua hal berikut ini; pertama, mungkin karena tolok ukur yang digunakan oleh masing-masing kita dalam mempersepsi apa yang ia dengar dan apa yang ia katakan saling berbeda sehingga terjadilah perbedaan pemahaman itu. Atau mungkin juga karena ucapan itu yang samar dan tidak jelas meskipun sang pembicara sendiri yakin bahwa ia telah menyampaikannya dengan sangat jelas. 



Tolok Ukur
Melalui kalimat-kalimat berikut, saya ingin menjelaskan –dengan sejelas-jelasnya– tentang berbagai dimensi dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun meliputi tujuan, sasaran, metode, dan sarana-sarana yang digunakannya. Tapi sebelumnya saya ingin membatasi tolok ukur yang harus digunakan dalam mengukur tingkat kejelasan tersebut, kemudian berusaha menjelaskannya semudah mungkin, sehingga setiap pembaca yang ingin mengambil manfaat dapat memperolehnya. Saya kita, tidak seorang muslim pun akan berbeda dengan saya untuk mengatakan bahwa tolok ukur itu adalah Kitabullah; dialah lautan dari mana kita meraup mutiara kecemerlangan dan referensi menentukan hukum.


Wahai Kaum
Al-Quran Mulia adalah kitab sempurna dimana Allah memadukan dasar-dasar kepercayaan, kaidah-kaidah perbaikan sosial, prinsip-prinsip umum hukum keduniaan, serta sederet perintah dan larangan. Sudahkah kaum muslimin melaksanakan kandungan Al-Quran? Sudahkah mereka meyakini kepercayaan-kepercayaan yang seharusnya diyakini? Benarkah mereka telah betul-betul memahami tujuan-tujuannya? Apakah mereka telah menerapkan system sosial dan sistem-sistem lain yang vital dalam kehidupan mereka?

Apabila dalam pembahasan ini kita sepakat bahwa mereka telah melakukannya, berarti kita telah sampai ke tujuan. Tapi, jika ternyata kita menemukan bahwa mereka masih sangat jauh dari ajaran-ajaran Al-Quran maka merupakan tugas kita untuk bersama-sama kembali ke jalan itu. 



Tujuan Hidup dalam Al-Quran
Al-Quran telah menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan sikap yang semestinya mereka ambil dalam menentukan tujuannya. Al-Quran menjelaskan bahwa sebagian manusia menjadikan makan dan kesenangan yang lain sebagai tujuan hidupnya. 


Firman Allah,
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Al-Quran juga menjelaskan bahwa sebagian manusia yang lain menjadikan perhiasan dan kekayaan sebagai tujuan hidupnya. 


Firman Allah,
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Al-Quran juga menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang menjadikan penyebaran fitnah, kejahatan, dan kerusakan sebagai tujuan hidupnya. Firman Allah,

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 204-205)

Itulah beberapa macam tujuan manusia dalam menjalani hidupnya menurut Al-Quran. Allah telah membersihkan kaum mukminin dari tujuan-tujuan buruk itu dan mencanangkan untuk mereka sebuah tujuan yang lebih mulia dan luhur. Di atas pundak mereka Allah telah meletakkan beban besar yang sangat luhur, yaitu tugas membawa manusia ke jalan kebenaran, membimbing mereka ke jalan kebaikan, menerangi seluruh penjuru dunia dengan matahari Islam.

Dengarlah firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 77-78)

Artinya, Al-Quran telah menjadikan kaum muslimin sebagai mandataris-Nya di hadapan umat manusia; memberikan hak kepemimpinan dan kewenangan atas dunia untuk menunaikan mandat suci itu. Jadi, kekuasaan itu adalah hak kita, bukan hak barat atau siapa pun. Keberadannya adalah demi peradadan Islam, dan bukan peradaban materialisme.


Mandat Suci itu Berarti Pengorbanan, Bukan Pemanfaatan
Selanjutnya, Allah menjelaskan bahwa dalam mencapai tujuan suci, kaum muslimin rela menjual jiwa dan hartanya kepada Allah. Dengan keimanannya, mereka merasa tidak berhak lagi atas jiwa dan hartanya. Keduanya telah menjadi wakaf di jalan Allah demi menyukseskan dakwah dan menyampaikannya kepada segenap hati manusia.

Firman Allah,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS.At-Taubah: 111)

Itulah sebabnya mengapa setiap muslim menjadikan dunianya sebagai wakaf bagi dakwahnya agar ia dapat mendapatkan akhirat sebagai balasan dari Allah atas pengorbanannya. Itu pula sebabnya mengapa seorang pejuang muslim adalah juga seorang guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada pada seorang guru; cahaya, hidayah, rahmat, dan kelembutan. Sehingga pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran, dan bimbingan kepada seluruh umat manusia. Samakah hal ini dengan dominasi Barat sekarang yang mewujud dalam imperialisme dan penindasan?


Di Manakah Posisi Kaum Muslimin dari Tujuan Tersebut?
Demi Tuhanmu, saudaraku tercinta; apakah kaum muslimin memahami makna tersebut dari Al-Quran sehingga jiwa dan ruh mereka naik ke langit ketinggian, terbebas dari perbudakan materialisme, bersih dari syahwat dan ambisi dunia, mengarahkan wajah dengan lurus kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menegakkan kalimat Allah dan berjuang di jalan-Nya, serta menyebarkan agama dan membela syariat-syariat-Nya?

Ataukah mereka justru telah menjadi tawanan syahwat dan budak keserakahan, dimana mereka hanya memikirkan makanan lezat, kendaraan megah, perhiasaan mewah, tidur nyenyak, istri cantik, penampilan parlente, dan gelaran-gelaran palsu?

Mereka sudah cukup senang dengan mimpi-mimpi dan teruji dengan keberuntungan
Mereka bilang menyelami laut perjuangan tapi mereka tak teruji

Sungguh benar ketika Rasulullah bersabda, 

Celakalah hamba Dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba selimut.” (HR. Bukhari)


Tujuan adalah Dasar, Perbuatan adalah Buahnya

Tujuan adalah dasar yang mendorong kita sepanjang perjalanan. Tapi karena tujuan itu masih samar bagi umat kita maka adalah wajib bagi kami untuk menjelaskannya dan membatasinya. Saya kira, kami telah menjelaskan banyak hal. Kita telah sepakat bahwa tujuan kita adalah memimpin dunia dan membimbing manusia kepada ajaran Islam yang syamil, dimana manusia tidak mungkin menemukan kebahagiaan kecuali bersamanya.

Setelah mengetahui hal ini, wahai pembaca yang terhormat, maka katahuilah bahwa tujuan Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah menyeru umat manusia untuk menggapainya, dimana Al-Quran juga telah menyerukan hal itu.

Maka Barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku; dan barangsiapa yang mendurhakai aku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim: 36) 

Apabila umat Islam telah memahami tujuan ini dan berkonsentrasi menggapainya, maka hal itu sudah cukup untuk membuka tabir kelalaian dalam diri mereka. Hal itu sudah cukup untuk menunjukkan titik-titik kelemahan mereka, membimbing umat menuju kebahagiaan yang dapat menyejahterakan kehidupan, memperbaiki kondisi masyarakat,dan merealisasikan harapan-harapannya. 

Itulah yang akan kita bahas pada edisi selanjutnya, insya Allah.


Dikutip dari:
Buku Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il, Imam Hasan Al-Banna

Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Imam Hasan Al-Banna


Kamis, 14 Maret 2013

Kata Pengantar Buku Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Imam Hasan Al-Banna, Oleh Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Muhammad Mahdi Akif

Kata Pengantar Buku Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Imam Hasan Al-Banna, Oleh Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Muhammad Mahdi Akif

Kata Pengantar Buku
Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il Imam Hasan Al-Banna
Oleh Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Muhammad Mahdi Akif


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil mursalin sayyidina Muhammadin al-mab’uts rahmatan lil ‘alamin wal hadi ila shiratillahil mustaqim, amma ba’du.

Ini adalah warisan Imam Hasan Al-Banna –ridhwanullahi ‘alaihi, lelaki yang dengannya, Allah memperbarui Islam di abad ke-empat belas Hijriyah. Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini di awal setiap seratus tahun orang yang memperbarui agama mereka.” (HR. Abu Daud)

Kami yakin bahwa Imam Al-Banna –ridhwanullahi ‘alaihi– adalah pembaru abad ini, wala nuzakkin ‘alallahi ahada.

Para guru besar yang terhormat, para ulama, dan pejuang yang hidup semasa dengannya dan berinteraksi dengannya telah memberikan kesaksian untuknya. Syekh Muhibbuddin Al-Khatib –rahimahullah– berkata, “Ustadz Hasan Al-Banna merupakan umat tersendiri dan sebuah kekuatan yang dulu aku dambakan ada di dalam jiwa mukmin. Namun, tidak aku temukan kecuali pada hari itu ketika aku mengenalnya di sebuah ruang bersahaja. Saat itu aku adalah seorang anak binaannya pada hari dimana terungkap antara aku dan diriku sebuah kebutuhan Islam pada seorang dai yang kuat lagi penyabar dan tangguh ini, yang memberikan kepada dakwah ini dari dirinya hal-hal yang memang sedang dibutuhkannyam yaitu kekuatan, keluwesan, keseriusan, kesabaran, ketegaran, dan seterusnya.”

Semoga Allah merahmati Imam Hasan Al-Banna dengan rahmat yang luas. Beliau telah membimbing umatnya pada umumnya dan pengikut-pengikutnya pada khususnya, kepada banyak hakikat, menghidupkan di tengah mereka makna-makna yang sebelumnya telah mati, dan berbagai persoalan yang telah terpelajari. Beliau bangkitkan kembali semangat dan tekad.

Beliau telah berbicara tentang urusan agama dan dunia dalam waktu bersamaan. Beliau pindahkan dakwahnya itu dari lingkup dakwah khusus – atau dakwah diniyah di masjid-masjid dan pojok-pojok – ke dakwah ‘ammah di jalan-jalan protocol, warung-warung kopi, klub-klub, organisasi-organisasi, dan seluruh pertemuan formal dan informal di masyarakat.

Sebagaimana beliau juga mengarahkan dakwahnya kepada orang-orang dengan berbagai tingkat intelektual dan strata sosialnya. Beliau dakwahi akademisi, politisi, ulama, orang jahil buta huruf, dan mahasiswa, sebagaimana beliau juga mendakwahi pria dan wanita, semuanya.

Beliau juga menyandang sifat-sifat agung sehingga terhimpunlah dalam dirinya ilmu para ulama, kezuhudan kaum zuhud, ketakwaan para muttaqin, kepiawaian para politikus, kecerdasan para leader, pengalaman para aktivis sosial, ketulusan para pendidik, dan keberanian para prajurit.

Karena itu, Imam kita ini telah memberikan pengaruh besar kepada generasi yang berguru kepadanya di madrasahnya itu dan lulus dari ujiannya. Beliau lahirkan sejumlah tokoh yang sangat mirip dengan generasi awal dalam keseriusan dan pengorbanan, kesabaran dan ketabahan, pengorbanan dan jihad. Maka muncullah satu generasi yang mengisi kehidupan islami di seluruh aspeknya. Dari generasi ini pula lahir ulama-ulama besar, para dai pembaharu, para leader yang ulung, dan tentara-tentara yang tangguh. Pengaruh mereka itu telah meluas di kawasan Arab Islam bahkan dunia seluruhnya, dan pengaruh ini masih terus berlangsung. Merekalah sebenarnya pencipta kebangkitan kembali kaum muslimin dewasa ini.

Ketika terjadi krisis yang sangat buruk dan berbagai bencana, mereka tampil memberikan keteladanan yang luar biasa dalam hal ketegaran di atas kebenaran dan tidak bergeser walau seruas jari; betapapun mereka dizalimi oleh bughat dan dianiaya para thaghut. Mereka lebih memilih penjara-penjara gelap daripada harus berjalan dalam barisan orang-orang yang menzalimi mereka dan umatnya, sebagimana yang dilakukan oleh Yusuf As-Shiddiq sebelum itu, saat beliau mengucap, “Tuhan, penjara itu lebih aku sukai disbanding apa yang mereka mengajakku kepadanya” (QS. Yusuf: 33).

Akan tetapi, boleh jadi suatu madharat berubah menjadi manfaat. Krisis yang sangat buruk itu justru memberikan pengaruh dalam meneguhkan kebenaran di dalam jiwa, sebagaimana ia juga membantu penyebaran dakwah dan memacunya ke cakrawala baru. Allah telah menyiapkan sebagian murid dan pecinta Imam Al-Banna untuk mengungkap satu sisi dari warisan Imam Al-Banna, yaitu juz khusus yang ditulis Imam Al-Banna berkaitan dengan pemikiran dan dakwah, setelah terbitnya bagian khusus syar’i dalam empat juz.

Warisan yang ada di hadapan Anda ini terhitung tulisan Imam Al-Banna yang terpenting. Di dalamnya beliau menjelaskan fikrahnya dan mempertegas rambu-rambu dakwah, mempertegas sikap, menjawab tipu daya musuh dan orang-orang yang selalu mengintai, menjawab pertanyaan orang-orang yang minta penjelasan. Karena itu, tulisan-tulisannya memuat akidah, hadits, tafsir, quran, fikih, fatwa, akhlak, sirah nabi, ceramah, nasehat, bimbingan, tasawuf, dan event-event Islam lainnya. Sebagaimana juga menjelaskan dasar-dasar kebangkitan Islam modern, pilar-pilar, karakteristik, sikap Islam terhadap berbagai aliran dan pemikiran.

Imam Al-Banna juga memberikan perhatian kepada fenomena penyimpangan sosial sangat berbahaya yang melanda Mesir pada tahun tiga puluh – empat puluhan di abad ke-20, seperti merebaknya pelacuran, narkoba, pornoaksi, dan pornografi.

Beliau telah mengemukakan konsep perbaikan di seluruh aspek kehidupan sosial. Beliau kemukakan hal itu dalam tarbiyah (pendidikan) dan taklim (pengajaran) dalam konsteks pendidikan karakter dan perilaku, tentang perempuan dan keluarga, dan seterusnya.

Beliau juga mempresentasikan konsepnya dalam reformasi politik dalam negeri. Menyoroti aspek terpenting dalam kehidupan Mesir, beliau jelaskan cara menghadapi penjajahan Inggris dan pendudukan politik. Beliau serukan untuk bersatu dan meninggalkan perpecahan partai, untuk lebih memperhatikan menghadapi realitas politik secara islami, menyerukan penerapan syariat Islam, menjelaskan hubungan antara agama dan politik, serta menyeru para penguasa, kepala negara, dan para menteri akan pentingnya reformasi politik dan kebebasan.

Berangkat dari ukhuwah islamiyah, beliau kemukakan problematika dunia Islam. Beliau menyerukan bangsa-bangsa Islam di Indonesia, Pakistan, India, Yaman, Syiria, Libia, Maroko, Arab, dan Sudan untuk bersatu dan saling membantu tercapainya kemerdekaan dan kebangkitan. Beliau mengecam penjajahan asing di kawasan Arab dan negara-negara Islam. Beliau bongkar berbagai konspirasi yang dilakukan oleh zionisme internasional, komunisme, dan salibisme. Beliau sampaikan juga problematika Palestina dan menyeru negara-negara Arab dan Islam, baik bangsa maupun pemerintah akan mendesaknya advokasi bagi bangsa Palestina, untuk membuka pintu jihad bagi kemerdekaan bumi Palestina.

Dalam waktu yang sama, beliau saat itu mengenalkan dakwah ini, karakteristik, tujuan, tahapan, perangkat, dan sarananya, serta berbagai sikapnya terhadap pemerintah, lembaga, dan partai-partai.

Ikhwan telah melakukan yang terbaik pada saat mereka mengemukakan sebagian khutbah, makalah, dan surat-surat khusus yang ditujukan kepada keluarga, saudara, dan semua orang yang berinteraksi dengannya sehingga para pembaca dan peneliti dapat mengenali sebagian sisi cemerlang dari kepribadian imam kita.

Semoga Allah merahmati Imam Al-Banna yang telah meninggalkan warisan yang dapat dijadikan sebagai rambu bagi setiap orang yang hendak meniti jalan dakwah ilallah. Oleh karena itu, meupakan suatu kewajiban bagi generasi dakwah dewasa ini untuk menelaah warisan tersebut dan mempelajarinya secara baik kalau memang mereka ingin menghidupkan keagungan Islam.

Semoga Allah menerima dan memberikan keberkahan atas kerja keras Ikhwan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya, sebagaimana kami harap setiap Akh yang punya sesuatu dari warisan imam kita ini untuk berbagi kepada Ikhwan lainnya.

Dan akhir dari doa kami, alhamdulillahi rabbil ‘alamin.



Dikutip dari:
Buku Risalah Pergerakan, Majmu'atu Rasa'il, Imam Hasan Al-Banna